Etika Puasa

Semua tidak ada yang meragukan bahwa rukun yang satu ini bukan perkara biasa bagi seorang muslim. Puasa bukan sekedar ritual yang dipertontonkan, atau hanya sebatas masuk dalam kondisi tidak menyentuh unsur-unsur materi yang membatalkannya lalu boleh menyentuhnya pada malam hari. Di luar itu semua, puasa adalah ibadah yang sangat agung, pahalanya besar, dan ganjarannya melimpah.

Puasa adalah milik (untuk)-Ku dan Aku memberi pahala karenanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Puasa sama dengan semua bentuk ibadah yang lain. Ibadah seorang manusia yang mukalaf tidak akan diterima kecuali disertai dengan niat. Niat tidak harus diucapkan, tetapi dapat dengan melakukan persiapan untuk makan sahur, bahkan dengan tindakan atau ucapan apa pun yang menunjukkan kepadanya.

Oleh sebab itu, orang yang hendak berpuasa harus mengesankan niat puasanya dengan menghayati bahwa puasa adalah ibadah yang diharapkan dapat mendekatkan dirinya kepada Allah. Ia menahan diri dari makanan, minuman, syahwat, dan nafsunya, hanya karena melaksanakan perintah Allah, dengan demikian, kita dapat menyadari kesalahan sekian banyak orang yang berpuasa baik yang dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja. Ada yang mengenal puasa dalam pengertian yang sangat terbatas, yakni tidak makan, minum, dan berhubungan suami istri, tanpa disertai penghayatan dan kesadaran atas besarnya pahala dari Allah swt.. Puasa orang-orang semacam itu dianggap timpang dan terancam gagal.

Di antara fenomena yang sering terjadi pada kebanyakan orang yang berpuasa adalah tidak menghayati tujuan, hukum, dan hikmah puasa, sehingga rentan terjerumus ke dalam faktor-faktor yang merusak dan mengurangi pahalanya. Alhasil, yang ia dapatkan dari puasanya hanya lapar dan dahaga.

Renungkanlah dengan baik saat engkau meninggalkan semua bentuk kenikmatan, mengapa engkau melakukan semua itu dan tidak sanggup melanggarnya? Bila engkau dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam ini, maka engkau telah menginjakkan kakimu pada jalan yang benar untuk mencapai tujuan-tujuan puasa, terutama takwa kepada Allah swt..

Apabila engkau berhasil merenungkan hikmah-hikmah puasa lainnya, maka engkau telah berpuasa dengan benar dan derajatmu naik hingga pada tahap orang-orang yang dihapus dosa-dosanya dan dilipatgandakan pahala-pahala kebaikannya. Engkau juga akan masuk surga dari pintu ar-Rayyan. Tapi, kehidupan manusia yang hiruk-pikuk dengan berbagai kesibukan, kesenangan, dan kelelahan membuat dirinya merasa terlalu susah untuk merenungkan hikmah-hikmah tersebut.

Coba renungkan betapa banyak kenikmatan yang diberika Allah kepadamu. Engkau hidup dengan aman dan kenyang. Tidur di atas kasur yang empuk dengan selimut lembut dan tebal. Juga menyantap berbagai makanan yang lezat. Bukankah puasa yang sejati menyadarkanmu bahwa di sana ada banyak kalangan yang sedang menderita kelaparan, dihantui ketakutan, tidur beralaskan bumi, dan berselimutkan langit?

puasa piring terbalik

Puasa sejati akan membangkitkan perasaan dan emosi seperti ini di dalam hati para pelakunya. Juga yang mendorong untuk menggunakan segenap kemampuan dan potensi, serta kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepadanya agar bergerak aktif karena berpuasa. Ia bergegas menuju setiap lapangan kebaikan untuk memberi kontribusi positif sesuai dengan kadar kenikmatan yang dianugrahkan Allah kepadanya. Tapi pada kenyataannya, ada orang yang hilang atau lemah penghayatannya terhadap tujuan dan hikmah-hikmah puasa. Lembaran catatannya hanya menyisakan lapar dan haus. Ia menikmati hidup tanpa cita-cita untuk meningkatkan kualitas diri agar mencapai derajat orang-orang yang berada di garis depan dalam mengerjakan kebaikan.

Di antara etika puasa adalah memanfaatkan suasana yang dirasakan oleh orang yang berpuasa, seperti ketenangan jiwa, hati yang lepas, dan pikiran yang jernih. Oleh sebab itu, muslim yang berpuasa seharusnya dapat memanfaatkan suasana yang jernih dan nyaman itu untuk melakukan aktivitas positif yang dirdhai Allah, membekali diri dengan kebaikan dan takwa (seperti melakukan evaluasi diri, dan mengevaluasi gaya hidupnya selama ini), agar dapat memulai gaya hiudp baru yang sarat dengan ketaatan Allah swt..

Salah satu etika puasa yang sangat penting dan menjadi sarana mutlak untuk mencapai tujuan puasa (takwa) adalah pesan yang terkandung dalam sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. di bawah ini.

Puasa adalah perisai. Apabila seorang di antara kamu berpuasa, maka jangan melakukan rafats (hal yang berkenaan dengan syahwat) dan mengangkat suara (karena emosi). Untuk itu, jika ada yang menghardik atau mencacinya, maka hendaknya mengatakan, ‘Aku sedang berpuasa.’ “ (HR Bukhari dan Muslim)

Puasa dapat berfungsi sebagai perisai yang menjaganya dari tindakan kasar dan kotor, dan menahannya dari faktor-faktor yang mendorong pada hubungan suami istri di siang hari, sehingga tidak terjerumus dalam larangan. Artinya, dia menjaga dirinya untuk selalu mengucapkan kata-kata yang baik, melakukan perbuatan yang baik, menjauhi segala hal yang dapat menodai puasanya, baik yang hukumnya haram maupun makruh. Bahkan seharusnya ia dapat mencapai derajat yang lebih tinggi, yakni mampu mengontrol diri dan mengendalikan emosi saat menghadapi orang yang menyakitinya dengan kata-kata yang tajam, suka menghardik dan mencela. Ia tidak hanya sanggup untuk tidak membalasnya, melainkan juga mengingatkan bahwa alasan yang mendorongnya untuk tidak membalas perilaku buruknya adalah puasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s