Bagian Ahli Waris Lebih Besar dari Jumlah Harta Warisan

harta-karunSuatu ketika, Umar bin Khattab didatangi oleh seorang sahabat yang meminta bantuannya untuk menyelesaikan masalah waris, dimana ahli warisnya hanya tiga orang, yaitu suami dan dua saudara perempuan sekandung. Awalnya Umar bin Khattab ‘pede’ alias percaya diri untuk menyelesaikannya sendiri. Setelah dipikir-pikir, beliau pun tampak ragu dan bimbang untuk menetapkan bagian (persentase) warisan masing-masing. Beliau bingung, siapa di antara mereka yang harus didahulukan dan siapa pula yang harus diakhirkan dalam penghitungan atau persentasenya.

Jika hitungan persentase dimulai dari pihak suami, maka hak saudara perempuan itu terkurangi. Sementara jika dua saudara perempuan yang didahulukan, maka jelas bagian dari suami akan terkurangi. (Karena suami mendapat bagian ½ dan dua saudara sekandung mendapat bagian 2/3 dari harta warisan, sehingga kalau dibagi tidak akan cukup).

Akhirnya beliau meminta pertimbangan Zaid bin Tsabit dan Ibnu Abbas untuk menyelesaikan persoalan terebut. “Apakah ada di antara kalian yang bisa membagi warisan, dimana ahli warisnya adalah seorang suami dan dua saudara perempuan sekandung? Terus terang aku sendiri bingung cara membaginya, karena jumlah bagian ahli waris lebih besar dari jumlah (persentase) harta warisannya.” Tanya Umar kepada dua sahabatnya.

Ibnu Abbas pun mengajukan usul, “Begini ya Amirul Mukminin. Kalau harta warisan dibagi dengan hitungan biasa, jelas tidak mengkin, karena akan mengurangi hak bagian dari ahli waris yang lain, karenanya, supaya adil, harta warisan itu harus diselesaikan dengan cara ‘aul, yaitu menambah angka asal masalah (semula 6 – diambil dari persentase ½ dan 2/3 – menjadi 7). Maka penyelesainnya adalah suami mendapat bagian 3/7 (semula 3/6) dan dua saudara perempuan sekandung mendapat bagian 4/7 (semula 4/6), sehingga harta warisan bisa terbagi habis dan tidak ada hak masing-masing ahli waris yang terkurangi.”

“Betul juga pendapatmu itu. Aku setuju,” jawab Umar bin Khattab. Akhirnya, masalah pun bisa diselesaikan dengan adil. Usul Ibnu Abbas ini kemudian diterima semua sahabat dan diapakai sebagai satu-satunya cara menyelesaikan pembagian warisan, dimana ahli waris melebihi persentase harta warisan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s