Karena Membayar Zakat

Suatu ketika, sebagian besar wilayah Persia terkena serangan hama (belalang). Kabar itu pun terdengar ke telinga Gawwam al-Mulk. Konon, seluruh hasil pertanian di daerah Fasa telah hancur akibat serangan belalang tersebut. Berita itu sangat memprihatinkan dan mencemaskan Gawwam Al-Mulk, apalagi ia juga memiliki ladang sawah di daerah itu. Akhirnya ia pun memutuskan terjun langsung ke lapangan. “Saya ingin melihatnya sendiri,” kata Gawwam.

Kemudian Gawwam Al-Mulk bersama rombongan -termasuk di dalamnya Bannan Al-Mulk dan Murad Khan- ke daerah yang terkena bencana itu. Hingga sampailah mereka di persawahan milik Gawwam. Mereka melihat ladang gandum miliki beliau telah rusak dimakan belalang; tak satu pun tangkai yang selamat. Mereka pun berkeliling ladang, mengamati satu per satu tangkainya.

“Benar-benar bencana yang hebat. Tak ada sebatang pun gandum yang selamat.” Keluh Gawwam memikirkan ladangnya.

Mereka kembali meneruskan perjalanannya melihat-lihat ladang yang terkena wabah hama hebat. Hingga sampailah di suatu area persawahan. Di situ mereka melihat semua gandum yang ada masih utuh; tidak rusak sama sekali. Ini berarti tak sebatang tangkai pun yang dimakan belalang itu, meskipun tangkai-tangkai yang bersebelahan dengan area itu telah diahancur-leburkan oleh belalang-belalang.

Mereka menjadi sangat heran melihat pemandangan itu. Kontan saja, Gawwam bertanya, ”Siapa yang menanami ladang ini dan milik siapa ladang ini?”

Ini milik si Fulan, seorang penjahit pakaian di pasar kota Fasa,” jawab salah satu dari rombongan.

“Kalau begitu saya ingin bertemu dengannya,” seru Gawwam.

Melihat raut wajah Gawwam yang heran sekaligus penasaran, anggota rombongan saling menatap untuk menentukan siapa yang harus memanggil si Fulan datang menghadap Gawwam.

“Bagaimana kalau engkau saja yang pergi dan memanggil dia kemari,” pinta salah seorang anggota rombongan kepada Murad Khan.

Murad Khan pergi ke pasar dan mencarinya sampai ketemu.

“Gawwam menyuruhku untuk menjemputmu,” kata Murad kepada si Fulan.

Dia malah cuek dan berkata, “Saya tak ada urusan dengan Gawwam. Suruh saja dia yang kemari menemuiku.”

Murad pun membujuknya dengan berbagai cara, hingga akhirnya dia mau diajak menemui Gawwam.

Setelah bertemu, Gawwam berkata kepada si penjahit itu, “Apakah bibit di ladangmu ini milikmu dan apakah engkau sendiri yang menebarkannya?”

Dia menjawab, “Ya, benar.”

Gawwam kembali bertanya, “Lantas, mengapa belalang-belalang memakan semua tanaman di seluruh ladang yang lain, sementara ladangmu ini tidak?”

Dia pun menjawab, “Mengapa heran. Sebelum memanennya, aku selalu mengeluarkan zakat untuk mereka yang berhak dan sisanya untuk memenuhi kebutuhan keluargaku. Jadi, tak ada jatah yang tersisa dari hasil penen ini untuk belalang.”

Gawwam pun mengucapkan selamat atas kehebatan si penjahit itu.

zakat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s