Apa Untungnya Makan Buah Pisang Masak Pohon

pisang

Bagi orang yang mempunyai pohon sendiri, mempersembahkan buah pisang sebagai bingkisan tentu diusahakan buah yang masak pohon atau dalam bahasa Jawa disebut “mateng uwit”. Konsumen yang memperoleh dari pasar mungkin sulit mendapatkannya karena umumnya petani memotong pisang sebelum masak. Jika dipotong setelah masak, bisa jadi pisang akan membusuk sebelum laku dijual.

Apa kelebihan pisang masak pohon? Apakah rasanya lebih enak? Bisa ya, bisa juga tidak. Terasa lebih enak jika konsumen memang memiliki kepekaan terhadap selera dan rasa (taste). Terlepas dari rasanya yang lebih enak atau tidak, pisang masak pohon akan memiliki kandungan gizi yang lebih tinggi daripada pisang tidak masak pohon (mateng imbon).

Menurut analisis biokimia, buah pisang mengandung karbohidrat, protein, kalium, vitamin C, dan vitamin E. Kalium berkhasiat untuk menurunkan tekanan darah, vitamin C penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh, dan vitamin E membantu mengendalikan proses penuaan kulit sehingga membuat kita awet muda. Kandungan karbohidrat, protein, dan citamin buah pisang masak pohon dan masak imbon nilainya tidak banyak berbeda. Kalaupun berbeda, hal ini tidak menjadi persoalan penting karena umumnya orang makan pisang bukan untuk menambah ketiga zat gizi tersebut.

Perbedaan kandungan gizi pisang antara lain bentuk karbohidratnya. Bentuk karbohidrat dalam pisang yang belum masak adalah sukrosa, sedangkan karbohidrat pisang masak berbentuk fruktosa yang rasanya manis. Oleh karena itu, pisang yang dipotong sebelum masak memerlukan waktu untuk proses perubahan biokimia. Hal ini tidak diperlukan pada pisang yang dipotong setelah masak memerlukan. Bila pisang yang dipotong terlalu muda, rasa buahnya kadang-kadang kurang manis karena proses biokimianya berlangsung tidak sempurna. Pemotonga buah pisang yang telah cukup tua menghasilkan rasa yang praktis tidak berbeda.

Sebagai salah satu unsur hara essensial, Kalium mempunyai sifat yang unik. Unsur ini sangat penting bagi tanaman, antara lain untuk metabolisme karbohidrat dan membentuk jaringan. Bila jaringan telah tua, unsur ini akan tertinggal di dalam jaringan. Jaringan yang terdapat dalam jerami padi juga banyak mengandung Kalium. Sangat disayangkan apabila banyak petani kita yang membakar jeraminya, karena jerami yang dibenamkan kembali ke tanah dapat dapat menambah kandungan Kalium dalam tanah. Hal ini dapat mengurangi biaya pemberian pupuk (KCl) yang sekarang harganya sangat mahal.

Pisang termasuk tanaman yang dikonsumsi pada waktu jaringan buahnya telah tua. Sebelum masak, Kalium masih aktif melakukan metabolisme karbiohidrat. Apabila dipanen pada kondisi ini, maka struktur kimia dalam jaringan buahnya belum mantap. Dengan kata lain kandungannya lebih sedikit dan struktur kimianya masih labil. Namun bila dipanen setelah buah masak, kandungannya telah banyak dan struktur kimianya mapan. Akibatnya, salah satu keuntungan yang tidak kita peroleh bila kita mengkonsumsi pisang “mateng imbon” mengurangi tekanan darah tinggi.

Demikian halnya dengan vitamin C yang penting untuk menambahn daya tahan tubuh dan vitamin E yang membantu agar kita awet muda. Struktur kimia kedua vitamin ini belum mantap pada buah yang belum masak. Oleh karena itu, kandungannya bisa lebih rendah, bukan tidak mungkin, keadaan struktur kimia yang belum mapan justru akan terurai selama proses pemasakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s