2 Peramal

Dari kisah dua peramal ini kita bisa belajar: mengemas sesuatu dengan bagus jauh lebih baik daripada asal-asalan. Kejujuran itu penting. Sepahit apapun, harus tetap jujur. Namun, manusia bukanlah robot. Manusia memiliki emosi. Dalam kejujuran, pastikan menyampaikannya dalam kemasan yang bijaksana.

Alkisah, suatu hari seorang raja terbangun dari tidurnya. Rupanya, sang raja baru saja mendapat mimpi buruk yang penuh teka-teki. Dengan nafas masih terengah-engah, sang raja berteriak memanggil hulubalang kerajaan. “Hulubalang, panggil peramal istana kerajaan sekarang juga. Cepaaat…!”

Hulubalang terpogoh-pogoh pergi menunaikan perintah raja tanpa berani bertanya siapa peramal yang dikehendaki raja.

Tak lama, seorang peramal kerajaan menghadap. Raja langsung membeberkan mimpinya dan meminta si peramal mengartikannya. “Aku bermimpi aneh sekali. Dalam mimpi itu, gigiku tanggal semua. Pertanda apa ini?” Tanya sang raja.

Setelah mengadakan perhitungan dan penanggalan secara cermat dan teliti, dengan sedih si peramal berkata, “Mohon ampun, Baginda. Dari penerawangan hamba, mimpi itu membawa pesan, bahwa kesialan akan menimpa Baginda. Setiap gigi yang tanggal itu berarti seorang anggota keluarga kerajaan akan meninggal dunia. Jika semua gigi tanggal, berarti kesialan besar, semua anggota keluarga kerajaan akan meninggal dunia!”

Bagai disambar geledek, raja langsung merah padam mukanya. Pertanda buruk yang disampaikan peramal itu membuatnya marah besar. Raja langsung memerintahkan supaya peramal itu dihukum.

Walau demikian, kegundahan hati raja tidak juga mereda. Raja masih gelisah dan merasa tidak puas. Lalu sang raja memerintahkan hulubalang untuk memanggil peramal yang lain. Segeralah seorang peramal baru datang menghadap raja.

Kali ini, setelah mendengar penuturan raja, peramal itu tersenyum. “Baginda Raja, dari penerawangan hamba, mimpi itu membawa pesan bahwa Baginda adalah orang yang paling beruntung di dunia. Paduka berumur panjang dan akan hidup lebih lama dari sanak keluarga Baginda,” kata peramal dengan nada riang dan bersemangat.

Mendengar perkataan peramal tersebut, mendadak secercah senyum mengembang di muka sang raja. Tampaknya, sang raja sangat senang dengan perkataan peramal tadi. “Kamu memang peramal yang pandai dan hebat. Dan sebagai hadiah atas kehebatanmu itu, aku hadiahkan lima keping emas untukmu. Terimalah.”

Setelah peramal kedua itu pergi, sang raja bertanya kepada penasihat istana tentang kualitas dan keakuratan kedua peramal tadi.

Penasihat istana yang telah menyaksikan peristiwa tersebut, dengan berani dan bijaksana berkata, “Baginda, menurut hamba, peramal pertama mengartikan tanggalnya gigi baginda sama artinya dengan meninggalnya kerabat Baginda. Sementara peramal kedua mengartikan Baginda berumur lebih panjang dibandingkan kerabat Baginda. Sesungguhnya, kedua peramal tersebut mengatakan hal yang sama, yaitu, semua kerabat Baginda, akan meninggal lebih dulu, dan Baginda seoranglah yang hidup lebih lama.”

Kemudian penasihat istana menyimpulkan, “Jadi sebenarnya, kedua peramal tadi mempunyai kualitas yang setara. Yang membedakan hanyalah cara penyampaian mereka. Peramal pertama berbicara apa adanya tanpa memikirkan dampak negatifnya. Sementara peramal kedua menjawab dengan cerdik dan bijak sehingga Baginda merasa senang dan memberinya hadiah.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s