Awal Cerita bagi “Snooze People”

Setiap hari kita menjalankan cerita kita sendiri. Di dalam sebuah cerita tentu ada awalnya. Yang saya maksud di sini bukan pada saat kita berangkat ke kantor, bukan juga saat kita menyantap sarapan kita. Saya ingin menyamakan awal cerita kita, yaitu ketika kita membuka mata di pagi hari.

Di dunia modern ini, kehidupan kita sulit terlepas dari teknologi. Mungkin ada di antara kita yang secara otoomatis bangun tidur tepat waktunya, tetapi bagi sebagian orang, hadirnya alarm menjadi penolong. Bagi kaum yang menggantungkan awal harinya pada alarm ini, hal ke depannya ditentukan dengan dua pilihan, yaitu discard atau snooze.

Sangat ideal jika tubuh dan jiwa dapat dengan kompak membuat kesegaran setelah mendengar alarm berbunyi. Hal ini merupakan pilihan satu-satunya sebelum para pembuat alarm memutuskan untuk memberikan pilihan snooze pada alarm kita. Dengan demikian, kahidupan manusia di seluruh dunia berevolusi dan seperti virus yang menyebar, pilihan yang diberikan tadi membentuk manusia dengan kepribadian yang disebut sebagai snooze people.

Snooze people berfikir kalau tubuh mereka akan lebih segar jika mereka tidur kembali selama beberapa menit. Sebelum tercipta alarm, tubuh pada dasarnya dapat mengingat kebiasaan waktu tidur dan waktu bangun. Hal ini ditemukan pada orang-orang yang memiiki irama tidur yang rutin. Yang dilakukan alarm adalah memutuskan tahap tubuh untuk bangun sebelum waktu yang tubuh tentukan. Yang terjadi pada tubuh setelah kita memutuskan untuk menekan tombol snooze adalah tubuh kita berada di persiapan tidur yang lebih dalam lagi. Ini tidak baik, karena proses ini akan berulan-ulang dan tubuh akan semakin letih dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menjadi segar.

Ketika memilih untuk menekan tombol snooze, di dalam pikiran kita terdapat kepercayaan bahwa beberapa menit tidak akan berpengaruh ke hari ini. Jika kita melakukan menekan tombol squeeze dua kali dengan interval 5 menit, kita akan mendapatkan 300 menit waktu tidur tidak sempurna dalam sebulan. Jika anda memasang interval yang lebih dari 5 menit, silahkan menghitung waktu yang anda sia-siakan sendiri.

Suara alarm dapat diasosiasikan sebagai stress, pergi ke kantor, harus melalui kemacetan, dan mengejar waktu. Jika demikian, tentu dengan menekan tombol snooze berarti kita memilih untuk mendapatkan perasaan yang sama sekali lagi, bahkan bisa berkali-kali lagi. Seharusnya dalam satu hari kita cukup mendengar satu kali saja bunyi yang tidak menyenangkan itu.

Masih ada harapn bagi orang-orang di kategori ini. Banyak hal yang bisa dilakukan seperti menaruh alarm di tempat yang agak jauh dari jangkauan tangan atau dengan memasang 7 alarm di waktu yang sama. Tetapi hal yang perlu dilakukan adalah memberi pengertian positif ke pikiran kita.

Kita harus memiliki pikiran bahwa kita tidak akan meninggal jika kita langsung bangun dengan sekali bunyi alarm. Jika kita telah mendapatkan tidur yang cukup, maka kita tidak membutuhkan tambahan tidur beberapa menit. Paksa diri kita untuk membuka mata dan menyalakan lampu. Lebih baik lagi jika kita memiliki jendela yang dapat dimasuki cahaya matahari pagi. Kita harus ingat, kita memiliki tujuan memasang alarm pada waktu tertentu. Jika kita tidak langsung ingat tujuan tersebut saat mendengar bunyi alarm, tetap buka mata dan sebentar lagi ingatan itu akan datang.

Kita harus menekankan ke pikiran kita akan berharganya waktu. Perbedaan 10 menit dalam berkendara di kota Jakarta bisa berpengaruh pada waktu tiba kita di tempat tujuan. Pada saat kita sedang mengejar waktu masuk ke dalam teater bioskop, terlambat 5 menit saja, kita bisa kehilangan awal cerita yang menjelaskan sepanjang film itu. Dengan menekan snooze, kita bisa kehilangan waktu memakan roti panggang atau segelas kopi hitam, karena sudah harus berangkat ke kantor. Dengan tidak menekan snooze, kita akan mendapatkan waktu sarapan yang berkualitas dan mungkin saja terlepas dari kemacetan.

Bukankah kita tidak mengini stress, jadi tidak ada alasan untuk mendengar bunyi alarm kedua. Disiplinkan diri kita untuk membuka mata saat pertama kali mendengar bunyi alarm. Bunyi alarm tersebut mungkin tidak pernah menjadi bunyi yang indah, tetapi kita dapat bersahabat dengan bunyi itu. Kita harus memiliki pemikiran bahwa meskipun bunyi itu kita asosiasikan dengan stress, tetapi bunyi itu juga yang akan menghindari diri kita dari stress yang lebih dalam. Udara AC yang sejuk, kasur empuk, selimut yang nyaman, dan cahaya redup adalah sahabat di malam hari, tetapi itu juga yang akan menjadi penghalang berat di pagi hari untuk bangun tidur. Itulah yang ingin dikatakan alarm. Mari kita ubah asosiasi bunyi alarm bukan sebagai pengingat stress, tetapi sebagai sahabat pengingat untuk menghindari stress.

Jika anda tergolong sebagai snooze people, saya berikan kabar baik untuk anda, “there is a cure.” Cerita baik yang akan kita jalani dimulai saat kita membuka mata, inilah saat kita menyadari bahwa kita hidup. Kita tidak perlu mengutuk pencipta tombol snooze, sebagai manusia dengan pilihan bebas, kita harus memutuskan pilihan yang bijaksana. Besok pagi ketika mendengar bunyi alarm,  ingatlah bahwa itu adalah bunyi sahabat yang mengingatkan kita bahwa cerita harus segera dimulai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s