Peluang Merek Lokal

Indonesia adalah bangsa yang besar dengan begitu banyak potensi. Tidak ada yang bisa mengingkari potensi Indonesia. kekayaan alam melimpah, posisi geografis menguntungkan, bahkan jumlah penduduk yang mencapai 250 juta jiwa pun menjadi potensi tersendiri. Bagi dunia bisnis, jumlah penduduk sebanyak itu merupakan pasar yang sangat besar. Belum lagi kalau kita melihat demografi penduduk yang kebanyakan berusia produktif. Sebanyak 84% dari total populasi Indonesia berusia di bawah 50 tahun. Sungguh asset yang sangat berharga. Tak mengherankan bila pihak asing begitu tergiur untuk masuk ke Indonesia.

Masalahnya, kita acap kali tidak menyadari apa yang kita miliki sampai orang lain mengambilnya. Ingat kan bagaimana semua orang ribut dan marah-marah ketika “tetangga sebelah” mengklaim kesenian daerah kita? Padahal sebelum itu boro-boro membicarakannya, sebagian mungkin lupa kalau reog, angklung, dan tari pendet punya kita.

Hal yang sama berlaku pada dunia bisnis. Pasar kita dibanjiri pemain-pemain asing. Bisa jadi tanpa disadari dari ujung kepala hingga ujung kaki kita menggunakan merek asing. Semua itu merek asing yang yang menikmati kayanya pasar Indonesia. Mau menyalahkan mereka karena “menjajah” negeri kita dengan produk dan jasa yang ditawarkan? Rasanya sungguh salah alamat. Peribahasa “ada gula, ada semut” bukanlah omong kosong. Di mana ada pasar potensial, di situlah para produsen berkumpul. Indonesia merupakan sebongkah besar gula yang sangat mengundang bagi para pemilik merek, termasuk merek-merek global. Pertanyaannya, ke manakah para pemilik merek lokal? Apakah mereka juga menikmati keuntungan yang sama? Atau hanya berdiri di belakang sebagai latar belakang sementara merek global menjadi pemain utamanya?

Kita tentu menginginkan para pemain lokal dapat menjadi tokoh-tokoh utamanya sementara pemain asing berdiri sebagai latar belakang. Bermimpi tentu boleh saja meski bisnis bukanlah negeri dongeng. Namun ingat, segala hal besar dimuali dari mimpi terliar.

Mimpi itu hanya akan jadi kenyataan kalau kita bangun dan bekerja untuk mewujudkannya. Mari kita lihat apa yang terjadi di pasar kita saat ini. Ya betul, pasar kita saat ini didatangi banyak merek asing. Tapi merek lokal kita juga punya gigi kok.

Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia yang pemimpin pasar minuman ringannya bukan Coca-Cola, melainkan merek lokal. Kita juga menjadi satu-satunya negara yang memimpin pasar rokoknya bukan Marlboro. Di pasar makanan ringan jagoannya adalah merek lokal seperti Orang Tua Grup, Garudafood, dan Siantar Top.

Apa artinya itu? Hal tersebut menunjukkan bahwa merek lokal kita tidak lemah-lemah banget. Ada harapan kita bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Kalau Sosro, Sampoerna, Orang Tua Group, Garudafood, Indofood, dan lain-lain bisa memiliki taji untuk bersaing dengan merek global, artinya merek lokal yang lain pun bisa. Pertanyaannya mau bekerja keras untuk bisa seperti mereka atau tidak?

Menguasai pemasaran itu keharusan

Bagaimana agar merek-merek lokal Indonesia dapat berjaya serta mampu bersaing dengan merek-merek global? Tentu ada banyak cara, salah satunya dengan menguasai pemasaran. Kemampuan kita berkreasi dan berinovasi harus diimbangi dengan kemampuan memasarkannya.

Mengapa? Karena bagaimana pun bagusnya sebuah produk ataupun jasa, tidak akan berarti bila tidak bisa dipasarkan. Itu sebabnya para marketer dan pemilik merek, terutama yang muda harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang pemasaran.

Kita sering kali hanya melempar sebuah produk atau jasa ke pasar tanpa siap dengan sebuah strategi pemasaran. Inilah kekurangan kita. Padahal, merek-merek asing yang masuk ke Indonesia datang dengan sebuah strategi yang matang,” begitu kata Daniel Rembeth, seorang pakar pemasaran yang juga pengajar di Magister Manajemen FEUI.

Tentunya pemasaran di sini bukan hanya konvensional, tetapi juga yang digital. Ada dua jenis marketer di Indonesia, yaitu marketer muda yang fasih teknologi dan marketer mature yang gamang terhadap teknologi.

Usianya yang muda membuat teknologi dengan sendirinya menjadi bagian dari kehidupan marketer jenis pertama. Mereka mengerti bagaimana menggunakan teknologi dan memahami kekuatan media sosial. Mereka juga tahu bagaimana membangun komunikasi dua arah dengan audiensnya. Hanya saja dari segi skill pemasaran, mereka masih harus banyak belajar dan mengembangkan diri.

Sementara marketer jenis kedua, sangat menguasai pemasaran konvensional, tetapi gamang terhadap teknologi. Teknologi merupakan hal baru bagi mereka, jadi bukan hal yang mengejutkan sebenernya bila mereka terlihat ragu-ragu menggunakan media sosial dan perangkat digital marketing lainnya.

Membangun sebuah merek yang kuat di era digital seperti hari ini, marketer dan pemilik merek perlu menguasai keduanya. Sulit rasanya berasing dengan rekan-rekan internasional tanpa menguasai pemasaran dengan baik. Namun, tanpa kemampuan menggunakan kanal-kanal digital bagaimana kita menjangkau pasar potensial yang setiap saat berkomunikasi melalui hal tersebut.

Nah, kedua marketers tersebut perlu bertukar ilmu, sehingga yang satu pengetahuan pemasarannya bertambah, yang lain lebih pede menggunakan kanal-kanal digital dan luwes berkomunikasi di sana.

Maju dengan pede

Di samping menguasai pemasaran, kita juga perlu punya pede yang besar. Kesannya memang sepele – masalah kepercayaan diri, tetapi hal tersebut nyatanya sangat berperan. Kita terlihat “sulit” maju karena ngga pede dengan apa yang kita miliki.

Tidak pede dengan merek kita sendiri sehingga tidak berani merambah pasar global. Kalau china saja pede menjadikan kita pasar mereka, mengapa kita harus minder menjadikan cina sebagai target market? “pemilik merek itu harus pede. Percaya diri saja dalam memasarkan produknya,” begitu kata Daniel yang aktif di Twitter dengan akun @danrem ini.

Menurut Daniel Indonesia memiliki modal intelektual yang besar. Sekarang tinggal bagaimana kita mengkapitalisasi modal tersebut. Kalau itu bisa dilakukan merek lokal kita tidak saja akan menjadi tuan rumah di negerinya sendiri, tapi juga berkembang menjadi merek global yang mampu bersaing di kancah internasional. Siap dan maukah kita melakukan hal itu?

4 thoughts on “Peluang Merek Lokal

    • ardydii says:

      iya ded, emang bener. Sampoerna emang udah diakuisi sama Philip Morris.
      tapi kalo ngga salah si PM ini mengakuisisi Sampoerna justru gara2 produknya (Marlboro) susah masuk ke pasar Indonesia. makanya mereka rela bayar mahal buat beli produk lokal indonesia, dan kemungkinan bakal lebih fokus di produk Sampoerna dibanding Marlboro nya sendiri buat main di pasar Indonesia.
      buat namanya sendiri, kemungkinan mereka ngga bakal ganti2 nama. soalnya kalo ganti nama berarti merketing lagi dari nol, biaya makin besar. jadi mereka bakal ngelanjutin pake merek yang udah ada.
      cmiiw.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s