2. Bab Taubat

Penjelasan : Allah menjelaskan dalam kitab-Nya yang agung bahwa Dia mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang suka bersuci. Orang –orang yang bertaubat kepada Allah swt., setiap kali mereka berbuat kesalahan, mereka langsung bertaubat kepada Allah.

Para Ulama berkata, “Taubat itu hukumnya wajib dari segala macam dosa. Jika kemaksiatan itu terjadi antara seorang hamba dan Allah, yakni tiada kaitannya dengan hak manusia lain, maka untuk taubat itu ada tiga macam syarat, yaitu :

Pertama : hendaklah meninggalkan kemaksiatan yang dilakukan

Kedua : menyesal atas apa yang telah dilakukan

Ketiga : berniat tidak akan kembali mengulangi perbuatan maksiat itu untuk selamanya. Jika salah satu dari tiga syarat tersebut itu ada yang hilang, maka tidak sah taubatnya.

Apabila kemaksiatan itu ada hubungannya dengan sesama manusia, maka syarat-syaratnya itu ada empat macam, yaitu tiga syarat yang telah disebut di atas dan keempatnya ialah supaya melepaskan tanggungan itu dari hak kawannya. Oleh karena itu, jika tanggungan itu berupa harta atau yang semisalnya, maka kembalikanlah kepadanya. Jika berupa dakwaan zina atau yang semisal dengan itu, maka hendaklah mencabut dakwaan tadi dari orang yang didakwanya atau meminta maaf padanya. Dan jika merupakan ghibah, maka hendaklah meminta penghalalan yakni penerimaan maaf darinya. Ia juga diwajibkan untuk bertaubat dari segala dosa. Adapun bila orang yang bersangkutan itu bertaubat dari sebagian dosanya, maka taubatnya itu pun tetap sah dari dosa yang dimaksudkan itu. Namun, dosa-dosa yang lainnya masih tetap ada dan tersisa (yang belum bertaubat darinya). Demikianlah pendapat dari para ulama.

Sudah sangat jelas dalil-dalil yang tercantum dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw. Serta ijmak seluruh umat perihal wajibnya mengerjakan taubat. Allah swt. Berfirman :

“…Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur [24]:31)

Allah berfirman :

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya…” (QS. Hud [11]:3)

Allah berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (taubat yang semurni-murninya)…” (QS. At-Tahrim [66]:8)

bertobat

1/13. Abu Hurairah ra. berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Demi Allah, sesungguhnya saya beristighfar (memohon ampunan) kepada Allah serta bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (Muttafaqun ‘alaihi. HR. Al-Bukhari: 6307)

2/14. Al-Agharr bin Yasar Al-Muzanni ra. berkata, rasulullah saw. bersabda, “Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah dan mohonkanlah ampunan kepada-Nya, karena sesungguhnya saya ini bertaubat dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim: 42/2702)

Penjelasan : Dua hadits di atas (13 dan 14) merupakan bukti bahwa Nabi kita, Muhammad saw. orang yang paling giat beribadah kepada Allah. Dan sesungguhnya beliau adalah seorang guru yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, baik itu dengan lisan maupun dengan perbuatannya. Beliau senantiasa memohon ampun kepada Allah dan memerintahkan umatnya agar senantiasa beristighfar (memohon ampun), sehingga beliau menjadi figur yang sangat layak untuk diteladani.

3/15. Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshari ra. (pelayan Rasulullah saw.) berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah itu lebih gembira dengan taubat Hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Al-Bukhari: 6309 dan Muslim: 8,7/2747)

Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat kepada-Nya, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya (untanya) dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari dan meninggalkannya padahal di atas hewan itu ada perbekalannya. Sehingga, ia pun menjadi putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya, dalam keadaan hati yang telah putus asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan yang seperti itu, kendaraannya itu tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembiranya maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu’ Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.

Penjelasan : Hadits ini merupaka dalil atas kegembiraan ‘Allah swt. Atas taubat dari hamba-Nya, apabila ia bertaubat kepada-Nya. Hadits ini pula menganjurkan agar bertaubat karena sesungguhnya Allah sangat mencintainya dan itu merupakan kemaslahatan bagi hamba-Nya. Selain itu, bahwa seorang insan apabila melakukan kesalahan dalam ucapan walaupun itu berupa kekufuran karena kesalah lisannya, maka itu tidak menjadi dosa baginya.

4/16. Dari Abu Musa ‘Abdullah bin Qais Al-Asy’ari ra., Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala membentangkan tangan-Nya pada waktu malam untuk menerima taubatnya orang yang berbuat kesalahan di waktu siang dan juga membentangkan tangan-Nya di waktu siang untuk menerima taubatnya orang berbuat kesalah di waktu malam, sampai matahari terbit dari arah barat.” (HR. Muslim: 31/5759)

5/17. Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa bertaubat sebelum matahati terbit dari arah barat, maka Allah menerima taubatnya.” (HR. Muslim: 43/2703)

6/18. Dari Abu ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khattab ra., Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah swt. menerima taubat seorang hamba selama ruhnya belum sampai di kerongkongannya (sekarat).” (HR. At-Tirmidzi: 3537 dan Ahmad: 132/2. At-Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan. Sanadnya Shahih)

Penjelasan : Faedah hadits di atas (16-17-18) bahwa sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba sekalipun terlambat. Akan tetapi, menyegerakan taubat adalah wajib, karena seseorang tidak yang tahu datangnya kematian secara tiba-tiba, kemudian ia mati sebelum melakukan taubat. Dan apabila matahari terbit dari arah barat maka berakhirlah penerimaan taubat.

7/19. Zir bin Hubaisy berkata, “Saya mendatangi Shafwan bin ‘Assal ra.. Saya bertanya tentang mengusap mengusap dua sepatu khuf. Shafwan berkata, ‘Apakah yang menyebabkan engkau datang, wahai Zir?’ Saya menjawab, ‘Untuk mencari ilmu.’ Ia berkata lagi, Sesungguhnya para malaikat membentangkan sayap-sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu, karena ridha dengan apa yang dicarinya.’ Maka saya berkata, ‘Sebenarnya sudah terlintas di hatiku untuk mengusap di atas dua sepatu khuf itu sehabis buang air besar atau kecil, sementara engkau termasuk salah seorang sahabat Nabi saw.. Maka dari itu, saya datang untuk menanyakannya kepadamu. Apakah engkau pernah mendengar beliau menyebutkan sesuatu yang berkaitan dengannya?’ Shafwan menjawab, ‘Ya pernah. Rasulullah saw. memerintahkan kami jika kami bepergian (sedang dalam perjalanan), supaya kami tidak melepaskan khuf kami selama tiga hari tiga malam, kecuali jika kami terkena janabah. Namun, kalau hanya karena buang air besar atau kecil atau karena sehabis tidur (boleh tidak dilepas).’

Saya berkata lagi, ‘Apakah engkau pernah mendengar beliau menyebutkan tentang masalah hawa nafsu (cinta)?’ Dia menjawab, ‘Ya pernah. Pada suatu ketika, kami bersama dengan Rasulullah saw. dalam perjalanan. Di kala kami berada di sisi beliau, tiba-tiba ada seorang Arab badui (pergunungan) memanggil beliau dengan suara yang keras sekali. Ia berkata, ‘Hai Muhammad.’ Rasulullah saw. pun menjawabnya dengan suara yang sama kerasnya ‘Mari ke mari.’

Saya pun berkata kepada Arab badui tersebut, ‘Celaka engkau ini, pertahankanlah suaramu, sebab engkau ini benar-benar berada di sisi Nabi saw. sedangkan aku dilarang dari hal ini. Namun, Arab bdaui itu berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan memperlahankan suaraku.’ Kemudian ia berkata kepada beliau, ‘Ada orang mencintai sesuatu golongan, tetapi ia tidak dapat bertemu (menyamai) mereka.’ Nabi saw. pun menjawab, ‘Seseorang itu bersama orang yang dicintainya pada hari kiamat.’ Tidak henti-hentinya beliau memberitahukan apa saja kepada kami, sehinggan akhirnya menyebutkan bahwa di arah barat itu ada sebuah pintu yang perjalanan luasnya jika ditempuh seseorang dengan berkendara, memakan waktu empat puluh tahun atau tujuh puluh tahun perjalanan.”

Sufyan, salah seorang perawi hadits ini mengatakan, “Dari arah Syam, pintu itu dijadikan oleh Allah sejak hari Dia menciptakan seluruh langit dan bumi, akan senantiasa terbuka untuk taubat, tidak pernah ditutup sampai matahari terbit di sana.” (HR. Tirmidzi: 3535 dan lainnya. At-Tirmidzi mengatakan, hadits ini hasan shahih)

8/20. Dari Abu Sa’id bin Malik bin Sinan Al-Khudri ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Ada seorang lelaki dari golongan umat sebelummu  telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, kemudian ia menanyakan tentang orang yang paling alim dari penduduk bumi, lalu ia ditunjukkan kepada seorang pendeta. Ia pun mendatanginya dan selanjutnya berkata bahwa sesungguhnya ia telah membunuh sembilang puluh sembilan manusia, apakah ia masih diterima untuk bertaubat? Pendeta itu menjawab, “Tidak bisa.’ Kemudian ia bunuh pendeta itu, maka dengan demikian genaplah menjadi seratus. Lalu ia bertanya lagi tentang orang yang paling alim dari penduduk bumi, kemudian ditunjukkan pada seorang yang alim. Selanjutnya ia mengatakan bahwa sesungguhnya ia telah membunuh seratus manusia, apakah masih diterima taubatnya? Orang alim itu menjawab, ‘Ya, masih bisa. Siapa yang dapat menghalang-halangi antara taubat itu dengan dirinya? Pergilah engkau ke tanah ini (satu wilayah), sebab di situ ada beberapa kelompok manusia yang menyembah Allah. Menyembahlah engkau kepada Allah bersama dengan mereka dan janganlah engkau kembali ke tanahmu (tempat asalmu), sebab tanahmu adalah tempat yang buruk.’

Maka ia pun bergegas pergi sehingga di waktu ia telah sampai separuh dari perjalanan, tiba-tiba ia didatangi oleh kematian. Kemudian terjadilah perselisihan tentang orang tersebut antara malaikat rahmat dan malaikat siksa. Malaikat rahmat berkata, ‘Orang ini sama sekali belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun.’ Selanjutnya ada satu malaikat yang mendatangi mereka dalam wujud seorang manusia, lalu ia dijadikan sebagai pemisah antara malaikat-malaikat yang berselisih tadi-sebagai hakim-. Ia berkata, ‘Ukurlah antara dua tempat itu kemana ia lebih dekat letaknya, maka ia adalah untuknya. Lalu para malaikat itu mengukur, kemudian didapatinya bahwa orang tersebut lebih dekat kepada bumi yang dikehendaki (yang dituju untuk taubat) sehingga ia dibawa oleh malaikat rahmat.” (Mutafaqqun ‘alaihi. HR. Al-Bukhari: 3470 dan Muslim: 46/2766)

Dalam sebuah riwayat yang shahih disebutkan, “Orang tersebut lebih dekat sejengkal saja ke perkampungan yang baik itu (yang hendak didatangi), maka dijadikanlah ia termasuk golongan penduduknya.”

Dalam riwayat lain yang shahih pula disebutkan, “Allah Ta’ala lalu mewahyukan kepada tanah yang ini (tempat asalnya) supaya engkau menjauh dan kepada tanah yang ini (tempat yang hendak dituju0 supaya engkau mendekat. Kemudian berfirman, ‘Ukurlah antara keduanya.’ Maka mereka (para malaikat) mendapati bahwa kepada yang dituju lebih jauh sejengkal jaraknya. Maka orang itu pun diampuni dosa-dosanya.”

Dalam riwayat lain disebutkan, “Orang tersebut bergerak dengan membusungkan dadanya ke arah tempat yang dituju.”

Penjelasan : Hadits ini mengandung beberapa faedah, di antaranya bahwa seorang pembunuh itu memiliki kesempatan untuk bertaubat. Dalilnya ada dalam Kitabullah :

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya…” (QS. An-Nisa [4]:116)

Selama itu buka dosa syirik, Allah akan mengampuninya jika Dia berkehendak.

9/21. Dari Abdullah bin Ka’ab bin Malik ra., ia yang sering menuntun ayahnya (Ka’ab) ketika telah buta. ‘Abdullah berkata, “Saya mendengar Ka’ab bin Malik ra. bercerita tentang tertinggalnya (tidak bersama) dia bersama Rasulullah saw. dalam perang Tabuk. Ka’ab bin Malik berkata, ‘Saya selalu bersama Rasulullah saw. dalam setiap peperangan, kecuali dalam perang Tabuk. Memang saya juga tidak bersama beliau dalam perang Badar, tapi tak seorang pun dicela karena tidak ikut dalam perang tersebut. Sebab, waktu itu beliau bersama kaum muslimin keluar bertujuan untuk menghadang rombongan Quraisy lalu tanpa terduga Allah mempertemukan mereka dengan musuh. Sungguh aku mengikuti pertemuan bersama Rasulullah saw. pada malam ‘Aqabah, ketika kami berjanji setia terhadap Islam. Saya tidak merasa lebih senang seandaninya saya bisa mengikuti perang Badar, tetapi tidak mengikuti malam ‘Aqabah, meskipun perang Badar lebih banyak (lebih mahsyur) disebut-sebut di kalangan manusia daripada malam ‘Aqabah.

Adapun ceritaku tentang ketika tidak ikut perang Tabuk, waktu itu saya sama sekali tidak merasa lebih kuat atau lebih mudah (mencari perlengkapan perang), ketika aku tertinggal dari Rasulullah saw. dalam perang Tabuk. Demi Allah, saya belum pernah mengumpulkan dua buah kendaraan sebelum adanya peperangan Tabuk itu, sedangkan untuk persiapan peperangan ini sebenarnya saya dapat mengumpulkan keduanya. Belum pernah Rasulullah saw. mengharapkan suatu peperangan, melainkan beliau berniat pula dengan peperangan berikutnya hinga sampai terjadinya perang Tabuk.

Rasulullah saw. berangkat dalam peperangan Tabuk itu dalam cuaca yang sangat panas dan menghadapi suatu perjalanan yang jauh dan sulit. Selain itu juga menghadapi musuh yang berjumlah besar, maka beliau merasa perlu memberitahukan kaum muslimin akan kesulitan-kesulitan yang mungkin dihadapi, agar kaum muslimin melakukan persiapan yang cukup. Rasulullah juga menjelaskan tentang tujuan meraka. Waktu itu, kaum muslimin yang ikut perang Tabuk bersama beliau cukup banyak, tetapi nama-nama mereka tidak tercatat dalam buku-yang dimaksud Ka’ab adanya buku catatan, daftar mereka.’

Ka’ab berkata, ‘Sedikit sekali di antara mereka yang absen (bersembunyi dan tidak ikut perang). Orang-orang yang absen itu mengira bahwa Rasulullah saw. tidak mengetahuinya, selama wahyu Allah tidak turun (mengabarkan). Rasulullah berangkat ke Tabuk ketika buah-buahan sedang dalam masa panen dan kenyamanan berada di bawah naungannya. Karena itu, hatiku lebih condong kepadanya. Tatkala Rasulullah dan kaum muslimin hendak berangkat mempersiapkan segala sesuatunya, akupun bergegas keluar guna mempersiapkan diri bersama mereka. Namun, aku kembali tanpa menghasilkan apa-apa dan di dalam hati saya berkata, saya mampu mempersiapkannya jika saya menginginkannya.

Hal yang demikian itu terus berlangsung dan saya selalu menundanya untuk mempersipkan perlengkapan perang, sampai kesibukan kaum muslimin memuncak. Pada akhirnya, di pagi hari Rasulullah saw. beserta kaum muslimin berangkat, sementara saya belum mengadakan persiapan. Lalu saya keluar (untuk emncari perlengkapan), tetapi saya kembali dengan tangan kosong. Hingga kaum muslimin bertambah jauh dan pertempuran semakin dekat. Kemudian saya putuskan untuk berangkat dan menyusul mereka. Malangnya yang telah saya lakukan, ternyata itu belum ditakdirkan untukku. Akhirnya, apabila saya keluar dan bergaul dengan masyarakat sesudah berangkatnya Rasulullah, saya dihadapkan dengan keadaan bahwa saya dianggap sebagai orang munafik atau termasuk di antara orang-orang lemah yang mendapatkan uzur dari Allah.

Rasulullah saw. tidak pernah mencari saya, hingga sampai di Tabuk. Sesampainya di Tabuk, barulah beliau bertanya, ‘Apa sebenarnya yang dikerjakan Ka’ab bin Malik?’ Salah seorang dari Bani Salimah menjawab, ‘Wahai Rasulullah, ia ditahan oleh pakaian dan selendangnya.’ Maka Mu’adz bin Jabal berkata, ‘Alangkah jeleknya apa yang engkau katakan itu. Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui tentang dirinya kecuali kebaikan.’ Rasulullah saw. pun diam. Pada saat itulah beliau melihat seorang lelaki berpakaian putih sedang berjalan di kejauhan. Rasulullah bersabda, ‘Mudah-mudahan itu adalah Abu Khaitsamah.’ Ternyata benar, orang itu adalah Abu Khaitsamah Al-Anshari. Dialah orang yang bersedekah segantang kurma, ketika diolok-olok oleh orang munafik.’

Ka’ab meneruskan ceritanya, “Tatkala saya mendengar Rasulullah berada dalam perjalana pulang dari Tabuk, maka kesusahan pun mulai menyelimuti saya. Saya mulai mereka-reka alasan apa yang bisa menyelamatkan saya dari beliau. Saya juga meminta bantuan keluargaku mencari alasan dan jalan keluar yang sangat baik. Namun, ketika mendengar bahwa Rasulullah saw. sudah dekat, hilanglah segala kebohongan yang telah saya siapkan, hingga saya yakin tidak ada alasan yang dapat menyelamatkan dari beliau selamanya. Karena itu, saya mengatakan yang sebenarnya.

Keesokan harinya, Rasulullah saw. tiba. Biasanya, kalau beliau datang dari bepergian, yang beliau tuju pertama kali adalah masjid. Beliau mengerjakan shalat dua rakaat lalu duduk bersama orang-orang. Maka ketika beliau demikian itu, berdatanganlah orang-orang yang itdak ikut perang (Tabuk) menemui beliau. Mereka mengemukakan berbagai alasan kepada beliau disertai dengan sumpah. Mereka yang tidak ikut perang Tabuk ada delapan puluh orang lebih. Rasulullah menerima alasan mereka, menerima bai’at mereka dan memohonkan ampunan bagi mereka. Sedangkan batin mereka, beliau serahkan kepada Allah Ta’ala.

maxresdefault

Kemudian aku pun menghadap beliau. Ketika saya mengucapkan salam kepada beliau, beliau tersenyum sinis kemudian bersabda, ‘Kemarilah.’ Ka’ab berjalan mendekat dan duduk di hadapan beliau. Lalu beliau mulai bertanya, ‘Apa yang menyebabkan engkau tidak ikut berangkat? Bukankah engkau telah membeli kendaraan?’ Saya menjawab, ‘Wahai Rasulullah, Demi Allah andaikan saya duduk di hadapan orang selain engkau dari penduduk dunia saya yakin dapat bebas dari kemarahanmu dengan menggunakan berbagai alasan yang bisa diterima. Sungguh, saya telah dikaruniai kepandaian berbicara. Namun, demi Allah aku benar-benar yakin, seumpama hari ini saya berkata bohong dan membuatmu ridha kepada saya, pasti Allah akan membuatmu murka kepada saya. Sebaliknya, jika saya berkata benar yang membuatmu marah, maka saya sangat mengharapkan ampunan dari Allah swt.. Demi Allah, aku tidak mempunyai uzur. Demi Allah, diriku benar-benar dalam kondisi kuat dan lebih mudah ketika aku tidak mengikutimu (ke perang Tabuk).

Rasulullah saw. pun bersabda, ‘Adapun orang ini (Ka’ab bin Malik) telah berkata jujur. Berdirilah! Tunggulah keputusan Allah terhadap dirimu.’ Saya pun berdiri. Beberapa orang dari Bani Salimah berjalan menghampiri saya. Mereka berkata kepada saya, ‘Demi Allah, kami tidak pernah melihatmu melakukan dosa sebelum ini. Engkau benar-benar tidak mampu mengemukakan alasan kepada Rasulullah saw. seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain  yang tidak ikut ke Tabuk. Mestinya cukuplah bagimu, jika Rasulullah saw. memintakan ampun untukmu.’

Ka’ab berkata, ‘Demi Allah, orang-orang Bani Salimah itu terus menerus menyalahkan diriku, sehingga ingin rasanya saya kembali kepada beliau untuk meralat perkataanku. Tetapi, kemudian aku bertanya kepada orang-orang Bani Salimah itu, ‘Adakah orang lain yang mengalami seperti yang saya alami?’ Mereka menjawab, ‘Ya, memang ada. Ada dua orang yang mengatakan seperti apa yang engkau katakan dan mereka mendapat jawaban sama seperti jawaban yang engkau terima.’ Saya bertanya, ‘Siapa mereka berdua?’ Mereka menjawab, ‘Murarah bin Rabi’ah Al-‘Amri dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifi.’ Mereka menyebutkan dua orang lelaki shaleh yang mengikuti perang Badar dan keduanya dapat dijadikan teladan. Maka saya terus berlalu ketika mereka mereka menyebutkan nama keduanya kepadaku.’ Sejak saat itu, Rasulullah saw. melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga. Sejak saat itu pula orang-orang menjauhi kami-atau ia berkata, ‘Mereka telah mengubah sikap kepada kami-, sehingga bumi terasa asing bagiku, seolah-olah bumi yang saya pijak ini bukanlah bumi yang sudah saya kenal. Keadaan seperti ini berlangsung selama lima puluh hari. Dua orang temanku (Murarah dan Hilal) lebih memilih untuk menyembunyikan diri dan diam di rumahnya masing-masing, sambil tiada henti-hentinya menangis.

Sedangkan saya adalah orang yang paling muda dan paling kuat dari mereka. Aku tetap keluar rumah untuk mengikuti shalat jamaah bersama kaum muslimin dan pergi ke pasar. Namun, tak seorangpun mau diajak berbicara. Saya pergi menghadap Rasulullah saw. untuk sekedar mengucapkan salam kepada beliau sesudah shalat. Akan tetapi, hati ini berkata, ‘Apakah Rasulullah saw akan menggerakkan bibir beliau untuk menjawab salamku, atau tidak?’ Kamudian aku mengerjakan shalat berdekatan dengan beliau, sesekali aku melirik beliau. Apabila menghadap shalat, beliau memandangku, kalau aku menengok ke arah beliau, beliau berpaling dariku.

Hal ini terus terjadi sampai suatu hari aku berjalan-jalan, lalu memanjat dinding pekarangan Abu Qatadah. Dia adalah saudara sepupu dan orang yang paling kusayangi. Kuucapkan salam kepadanya, maka demi Allah, ia tidak menjawab salamku. Maka aku pun berkata padanya, ‘Wahai Abu Qatadah, dengan nama Allah aku meminta kepadamu, bukankah engkau tahu bahwa aku ini cinta kepada Allah dan Rasul-Nya?’ Abu Qatadah diam tak bergeming sehingga kuulangin pertanyaanku, tetapi dia tetap diam. Sesudah aku ulangi pertanyaanku sekali lagi, barulah dia menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Seketika itu mengalirlah air mataku dan aku pun pulang.

Pada suatu hari, ketika aku sedang berjalan-jalan di kota Madinah, tiba-tiba ada seorang petani asing dari negeri Syam yang datang ke Madinah untuk menjual bahan makanan. Petani itu bertanya, ‘Siapakah yang dapat menunjukkanku kepada Ka’ab bin Malik?’ Orang-orang pun memberikan isyarat ke arahku. Petani itu mendatangiku dan menyerahkan sepucuk surat kepadaku, dari Raja Ghassan. Setelah kubaca ternyata isinya sebagai berikut, ‘Amma ba’du. Sungguh kami mendengar bahwa temanmu (Nabi Muhammad saw.) mendiamkanmu, sedangkan Allah sendiri tidak menjadikanmu untuk tinggal di tempat hina dan tersia-sia. Karena itu, datanglah ke negeri kami. Kami pasti menolongmu.’

Aku pun berkata pada saat membacanya, ‘Ini juga merupakan cobaan.’ Kemudian aku menuju tungku lalu membakarnya. Selang empat puluh malam, tiba-tiba seorang utusan Rasulullah saw. datang kepadaku dan berkata, “Rasulullah saw. memerintahkanmu untuk menjauhi istrimu.’ Ka’ab bertanya, ‘Apakah saya harus menceraikannya atau bagaimana?’ Utusan itu menjawab, ‘Tidak, hindarilah dia, jangan dekat-dekat padanya.’ Rasulullah juga mengirimkan utusan kepada kedua orang temanku (Murarah dan Hilal), yang maksudnya sama dengan yang kuterima. Aku pun berkata kepada istriku, ‘Pulanglah kepada keluargamu. Sementara menetaplah engkau di sana, sampai keputusan Allah datang.’

Suatu saat istri Hilal bin Umayyah menghadap kepada Rasulullah saw. memohon kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayyah adalah seorang tua yang sebatang kara dan tidak mempunyai pelayan. Apakah engkau keberatan bila aku melayaninya?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, jangan sampai dia dekat-dekat padamu.’ Istri Hilal pun berkata, ‘Demi Allah, ia tidak bergerak sedikit pun. Demi Allah, ia masih terus menangis sejak perkara itu terjadi sampai sekarang.’

Sebagian keluarga berkata kepadaku, ‘Hai Ka’ab, kalau saja engkau meminta izin kepada Rasulullah saw. untuk istrimu tentu itu lebih baik, sebagaimana istri Hilal bin Umayyah untuk melayani suaminya.’ Aku menjawab, ‘Aku tidak akan meminta izin kepada Rasulullah saw.. Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan beliau apabila aku meminta izin beliau, sedangkan aku seorang yang masih muda.’ Maka setelah itu saya tinggal selama sepuluh malam sampai genap lima puluh malam, dari sejak Rasulullah saw. melarang (kamu muslimin0 berbicara kepada kami.

Maka pada saat aku melaksanakan shalat Subuh pada pagi selepas malam ke lima puluh, ketika aku sedang berada di salah satu rumah kami, ketika aku sedang duduk dalam keadaan yang Allah sebutkan, ketika diriku merasa sempit dan bumi pun terasa sempit bagiku, aku mendengar suara yang berteriak di atas gunung Sala’ dengan suara yang paling tinggi, ‘Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!’ Maka aku tertunduk sujud dan aku tahu bahwa kelapangan telah datang. Rasulullah saw. mengumumkan penerimaan Allah terhadap taubat kami, ketika beliau melakukan shalat Subuh. Orang-orang pun pergi memberikan kabar gembira kepada kami, dan ada juga yang pergi kepada dua orang sahabatku memberi kabar gembira kepada mereka. Seorang lelaki berkuda berlari menujuku, dan seseorang dari Aslam berlari kepadaku, lalu berdiri di atas gunung, dan suaranya itu lebih cepat daripada lari kuda. Ketika orang yang telah saya dengar suaranya itu datang kepadaku untuk memberikan kabar gembira, aku lekas melepaskan kedua pakaianku dan aku berikan kepadanya karena kabar gembira yang telah dibawanya. Demi Allah, aku tidak memiliki apa-apa selain kedua pakaianku itu pada hari itu, dan aku meminjam dua pakaian lain lalu mengenakannya.

Setelah itu aku pergi menemui Rasulullah saw sementara orang-orang menyambutku secara berbondong-bondong. Mereka semua memberiku selamat atas penerimaan taubatku. Mereka berkata, ‘Selamat atas penerimaan Allah atas taubatmu.’ Demikianlah, sampai aku memasuki masjid, ternyata Rasulullah saw. sedang duduk di tengah orang-orang. Lalu berdirilah Thalhah bin ‘Ubaidillah menghampiriku sambil berlari kecil dan memberiku ucapan selamat. Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kaum Muhajirin yang berdiri kecuali dia dan aku tak akan pernah melupakan ucapan selamat Thalhah.

Ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah saw. beliau pun berkata sambil tampak kegembiraan pada wajahnya, ‘Bergembiralah, karena hari ini merupakan hari paling baik bagimu, sejak kamu dilahirkan ibumu.’ Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah datangnya dari engkau sendiri atau dari Allah?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, berita ini dari Allah swt..’ Aku berkata, ‘Apakah ini datangnya dari engkau wahai Rasulullah, ataukah dari Allah?’ Rasulullah berkata, ‘Tidak, berita ini dari Allah.’

Apabila Rasulullah saw. sedang gembira, wajahnya bersinar seperti bulan, dan kami bisa mengetahuinya dari (wajah) beliau. Ketika aku telah duduk di hadapannya, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya di antara taubatku aku lepaskan (hak) hartaku sebagai sedekah kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Rasulullah saw. berkata, ‘Tahanlah untukmu sebagian hartamu, karena itu lebih baik untukmu.’ Aku menjawab, ‘Aku akan menahan bagianku yang ada di Khaibar.’

Kemudian aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkanku karena kejujuran. Dan sesungguhnya di antara taubatku, aku hanya akan berbicara jujur selama sisa hidupku.’ Demi Allah, aku menyebutkan hal itu kepada Rasulullah saw. yang lebih baik daripada apa yang diujikan kepadaku. Sejak aku menyebutkan itu kepada Rasulullah saw. sampai hari ini, aku tidak pernah berbohong. Dan aku berharap Allah menjagaku selama sisa hidupku.’

Ka’ab berkata, ‘Kemudian Allah menurunkan ayat, ‘Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan…’ sampai pada firman-Nya, ‘…Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. ‘Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka…’ sampai pada firman-Nya, ‘…Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.’ (QS. At-Taubah [9]:117-119)

Ka’ab berkata, ‘Demi Allah, belum pernah Allah memberikan nikmat, sesudah Allah memberi aku petunjuk memeluk Islam, yang paling besar pada diri saya daripada kejujuranku pada Rasulullah saw.. Sebab, andaikata aku berbohong kepada beliau, pastilah bencana menimpaku (rusak agamaku), sebagaimana binasanya orang-orang yang berdusta. Sungguh, Allah berfirman kepada orang-orang yang berdusta, ketika Allah menurunkan wahyu dan merupakan sejelek-jeleknya apa yang Allah katakan kepada seseorang. Allah berfirman, ‘Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka Jahanam sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepadamu agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, sesungguh Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu.’ (QS. At-Taubah [9]:95-96)

Ka’ab berkata, ‘Dan kami telah tertinggal. Yaitu kami bertiga, dari urusan-urusan orang yang diterima oleh Rasulullah saw. ketika mereka bersumpah kepada beliau. Lalu beliau membai’at mereka dan memintakan ampunan untuk mereka. Sedangkan Rasulullah saw. mengakhirkan perkara kami sampai Allah memberi keputusan tentangnya. Allah berfirman, ‘Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka.’ Dan bukanlah yang disebutkan itu apa-apa yang kami bertiga tertinggal dari perang Tabuk, tetapi mempunyai arti bahwa persoalan kami bertiga diundur dari orang munafik yang bersumpah kepada Rasulullah saw. dan menyampaikan bermacam alasan yang kemudian diterima oleh beliau.” (Muttafaqun ‘alaihi. HR. Al-Bukhari: 53/2769)

Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Nabi saw. keluar pada waktu perang Tabuk pada hari Kamis dan memang sudah menjadi kesukaan beliau untuk bepergian pada hari Kamis.” Dalam sebuah riwayat lain disebutkan, “Biasanya beliau datang dari bepergian pada waktu Dhuha, dan bila beliau datang biasanya langsung ke masjid dan shalat dua rakaat kemudian duduk di dalamnya.

10/22. Dari Abu Nujaid ‘Imran bin Al-Hushain Al-Khuza’i ra. bahwa ada seorang wanita dari Bani Juhainah mendatangi Rasulullah saw sedangkan ia dalam keadaan hamil karena zina. Kemudian ia berkata, “Ya Rasulullah, aku telah melakukan suatu perbuatan yang harus dikenakan had (hukuman), maka laksanakanlah had itu atas diriku.” Maka Nabi saw memanggil wali wanita itu lalu bersabda, “Berbuat baiklah kepada wanita ini dan apabila telah melahirkan (kandungannya), maka datanglah padaku (dengan membawanya).”

Wali tersebut pun melakukan apa yang telah diperintahkan. Kemudian Nabi Allah saw. memerintahkan agar wanita itu diikatkan pada pakaiannya dengan erat, kemudian memerintahkan untuk merajamnya. Setelah itu, beliau menshalatkan jenazahnya. Maka ‘Umar berkata kepada beliau, “Apakah engkau menshalatkan jenazahnya, wahai Rasulullah, sedangkan ia telah berzina?” Beliau bersabda, “Sungguh, ia telah benar-benar bertaubat. Seandainya taubatnya itu dibagikan kepada tujuh puluh orang dari penduduk Madinah, pasti mencukupi mereka. Adakah pernah engkau menemukan seseorang yang lebih utama dari orang yang suka mengorbankan jiwanya semata-mata mengharapkan keridhaan Allah swt.?” (Muttafaqun ‘alaihi. HR. Al-Bukhari: 6438 dan Muslim: 1048-1049)

11/23. Dari Ibnu ‘Abbas ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia akan menginginkan memiliki dua lembah, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Al-Bukhari: 6438 dan Muslim: 1048/1049)

12/24. Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah swt tertawa kepada dua orang yang seorang membunuh pada lainnya, kemudian keduanya dapat memasuki surga. Yang seorang itu berperang fisabilillah kemudian ia dibunuh, selanjutnya Allah menerima taubat atas orang yang membunuhnya tadi, kemudian ia masuk Islam lalu dibunuh sebagai seorang syahid.” (Muttafaqun ‘alaihi. HR. Al-Bukhari: 2826 dan Muslim: 1890)

Penjelasan : (Hadits ke 23 dan 24) : bahwa seorang hamba yang rakus akan harta itu tidak akan memperhatikan pada sesuatu yang diharamkan atau didapatkan dengan jalan haram. Adapun obat dari itu semua adalah dengan bertaubat kepada Allah. Selain itu, seorang kafir apabila ia bertaubat dari kekufurannya walaupun dia sudah membunuh seorang dari kalangan muslim, maka sesungguhnya Allah akan menerima taubatnya, karena Islam bisa melenyapkan (dosa) yang telah dilakukan sebelumnya (sebelum masuk Islam).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s