Indonesia vs. Negara Barat (Part 2)

Dalam bukunya yang berjudul “Why Asians Are Less Creative Than Westerners”, Prof.Ng Aik Kwang menawarkan beberapa solusi sebagai berikut:

  • Hargai proses. Hargailah orang karena pengabdiannya bukan karena kekayaannya.
  • Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya.
  • Jangan jejali murid dengan banyak hafalan. Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar dikuasainya.
  • Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) nya pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang.
  • Dasar kreativitas adalah rasa penasaran dan berani ambil resiko. AYO BERTANYA!
  • Guru adalah fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui dengan bangga kalau kita tidak tahu.
  • Passion manusia adalah anugerah Tuhan. Orang tua bertanggung jawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya dan mensupportnya.

Dengan cara-cara tersebut, penerus bangsa yang kreatif, inovatif, tapi juga memiliki integritas dan idealisme tinggi tanpa korupsi akan lahir.

Advertisements

Indonesia vs. Negara Barat

Perbedaan pola pikir bangsa Indonesia dengan negara-negara Barat:

  1. Secara umum bangsa Indonesia kurang menghargai rasa cinta terhadap sesuatu (passion) dan lebih menghargai kuantitas materi sebagai tolok ukur kesuksesan. Efeknya, profesi yang lekat dengan inovasi dan kreativitas kalah heboh dengan profesi yang dianggap lebih cepat mendatangkan kekayaan, misalnya hukum, dokter, dan lain-lain.
  2. Secara umum bangsa Indonesia lebih menghargai banyaknya kekayaan dan bukannya cara mendapatkan kekayaan. Karenanya kisah-kisah fiksi dengan tema orang miskin mendadak kaya karena menikah dengan orang kaya atau menemukan harta karun menjadi tema favorit. Jadi, tidak heran jika perilaku korupsi seperti dianggap wajar.
  3. Secara umum pendidikan di Indonesia identik dengan hafalan berbasis kunci jawaban, bukan pada pemahaman dan pengertian. Perhatikan saja Ujian Nasional atau Ujian Masuk Perguruan Tinggi  yang mayoritas berbasis hafalan. Bahkan untuk ilmu sains juga diwajibkan hafal rumus dan bukan diarahkan memahami bagaimana dan kapan waktu penggunaannya.
  4. Akibat pendidikan berbasis hafalan, kurikulum Indonesia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Kurikulum sepertinya ingin menciptakan “Jack of All Trades” yang sayangnya “Master of None”.
  5. Akibat pendidikan berbasis hafalan, para pelajar Indonesia dapat memperoleh prestasi membanggakan dalam olimpiade Matematika dan Fisika. Namun, pernahkah ada orang Indonesia yang berhasil memenangkan penghargaan Nobel yang berbasis inovasi dan kreativitas?
  6. Orang Indonesia takut salah, takut kalah yang berefek kepada sikap reaktif dan takut disalahkan. Efeknya, sifat dan sikap eksploratif sebagai usaha untuk memuaskan hasrat penasaran serta keberanian maju mengambil resiko tidak begitu dihargai.
  7. Bagi mayoritas bangsa Indonesia, bertanya adalah bodoh. Rasa penasaran tidak diizinkan mendapatkan posisi dalam proses belajar mengajar di sekolah.
  8. Karena takut salah, takut kalah, takut dianggap bodoh dalam berbagai kehidupan, khususnya yang erat dengan pendidikan seperti sekolah atau seminar, para peserta jarang bertanya saat sesi berjalan tetapi akan mengerumuni narasumber saat sesi berakhir untuk mendapatkan penjelasan tambahan.